Kitab Alma Pasal 32
Click Here to see this text in English.
(Terima kasih kepada Michel Elisa Lee)
1. Dan terjadilah bahwa mereka pergi dan mulai mengkhotbahkan firman Allah kepada rakyat, dengan memasuki rumah-rumah mereka. Ya, bahkan mereka mengkhotbahkan firman itu di lorong-lorong mereka.
2. Dan terjadilah bahwa setelah banyak bekerja di antara mereka, mereka mulai berhasil di antara golongan orang miskin, karena lihatlah, mereka diusir dari rumah-rumah ibadat karena pakaian mereka yang kasar –
3. Karena itu mereka tidak diijinkan masuk ke dalam rumah ibadat mereka untuk memuja Allah, karena dianggap kotor. Karena mereka miskin, mereka dianggap oleh saudara-saudara mereka sebagai sampah. Karena itu mereka miskin mengenai hal-hal keduniaan dan juga mereka itu miskin hatinya.
4. Maka ketika Alma sedang mengajar dan berbicara kepada orang-orang di bukit Onida, datanglah orang banyak kepadanya, yakni orang-orang yang telah kami bicarakan, orang-orang yang miskin hatinya, karena kemiskinan mereka mengenai hal-hal keduniaan.
5. Dan mereka datang kepada Alma dan orang yang terkemuka di antara mereka berkata kepadanya : Lihatlah, apa yang harus dilakukan saudara-saudara ini, karena mereka dihina oleh semua orang karena kemiskinan mereka. Ya, dan lebih-lebih lagi oleh para imam kami, karena mereka telah mengusir kami dari rumah-rumah ibadat kami yang telah kami kerjakan sekeras-kerasnya untuk membangunnya dengan tangan kami sendiri dan mereka telah mengusir kami karena kemiskinan kami yang luar biasa, dan kami tidak mempunyai tempat untuk memuja Allah kami. Dan lihatlah, apa yang harus kami lakukan?
6. Maka apabila Alma mendengar ini, ia membalikkan diri menghadapinya dan ia melihat dengan kesukaan yang besar, karena ia melihat bahwa kesengsaraan mereka telah benar-benar merendahkan mereka dan bahwa mereka berada dalam keadaan siap mendengarkan firman itu.
7. Karena itu ia tidak berkata apa-apa lagi kepada orang banyak yang lain itu, tetapi ia mengulurkan tangannya, dan berseru kepada orang-orang yang dilihatnya, yang benar-benar menyesal dan berkata kepada mereka:
8. Aku melihat bahwa kamu rendah hati dan jika demikian, berbahagialah kamu.
9. Lihatlah, saudaramu telah berkata: Apa yang harus kami lakukan? – karena kami telah diusir dari rumah ibadat kami sehingga kami tidak dapat memuja Allah kami.
10. Lihatlah, aku berkata kepadamu: Apakah kamu menyangka bahwa kamu tidak dapat memuja Allah kalau tidak di dalam rumah-rumah ibadat saja?
11. Tambahan lagi, aku ingin bertanya: Apakah kamu menyangka bahwa kamu hanya harus memuja Allah seminggu sekali?
12. Aku berkata kepadamu: Ada baiknya bahwa kamu diusir dar rumah-rumah ibadatmu agar kamu menjadi rendah hati dan agar kamu dapat belajar kebijaksanaan, karena perlulah kamu belajar kebijaksanaan. Karena kamu diusir, bahwa kamu telah dihina oleh saudara-saudaramu karena kemiskinanmu yang luar biasa, maka kamu dijadikan rendah hati, karena kamu perlu dijadikan rendah hati.
13. Dan sekarang, karena kamu terpaksa menjadi rendah hati, maka berbahagialah kamu, karena kadang-kadang seseorang jika ia terpaksa menjadi rendah hati, mencari pertobatan. Dan sekarang, pastilah, barangsiapa bertobat akan menemukan belas kasihan, dan orang yang menemukan belas kasihan dan bertahan sampai akhir, orang itu akan diselamatkan.
14. Maka sebagaimana telah aku katakan kepadamu, bahwa karena kamu terpaksa menjadi rendah hati, kamu diberkati. Tidakkah kamu anggap bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh merendahkan dirinya dikarenakan firman itu akan lebih diberkati?
15. Ya, orang yang sungguh-sungguh merendahkan dirinya dan bertbat akan dosa-dosanya dan bertahan sampai akhir, orang itu akan diberkati – ya, lebih diberkati daripada orang-orang yang terpaksa merendahkan diri karena kemiskinan mereka yang luar biasa.
16. Karena itu, berbahagialah mereka yang merendahkan diri tanpa dipaksa menjadi rendah hati, atau lebih baik dengan perkataan lain: Berbahagialah ia yang percaya akan firman Allah dan dibaptiskan tanpa kekerasan hati. Ya, tanpa dibawa untuk mengetahui firman itu atau bahkan dipaksa untuk mengetahui, sebelum mereka mau percaya.
17. Ya, bahkan orang yang mengatakan: Jika engkau mau memperlihatkan kepada kamu suatu tanda dari surga, maka kami akan mengetahui dengan suatu kepastian, maka kami akan percaya.
18. Maka aku bertanya: Apakah ini iman? Lihatlah, aku berkata kepadamu: Bukan, karena jika seseorang mengetahui sesuatu hal, maka ia tidak mempunyai alasan untuk percaya, karena ia telah mengetahuinya.
19. Maka, betapa terlebih lagi terkutuknya orang yang mengetahui kehendak Allah dan tidak melakukannya daripada orang yang hanya percaya atau hanya mempunyai alasan untuk percaya dan jatuh ke dalam pelanggaran?
20. Maka tentang hal ini haruslah kami pertimbangkan. Lihatlah, aku berkata kepadamu, antara hal ini tiada perbedaan dan akan terjadi kepada setiap orang menurut perbuatannya.
21. Dan sekarang, seperti kukatakan mengenai iman: Iman bukanlah memiliki sesuatu pengetahuan yang sempurna akan semua hal. Karena itu, jika kamu beriman kamu mengharapkan hal-hal yang tidak terlihat, yang benar adanya.
22. Maka lihatlah, aku berkata kepadamu dan aku ingin agar kamu ingat, bahwa Allah bermurah hati kepada semua orang yang mempercayai namaNya. Karena itu pertama-tama ia menginginkan agar kamu percaya, ya, bahkan kepada firmanNya.
23. Ia memberitahukan firmanNya kepada manusia melalui para malaikat. Ya, bukan saja orang laki-laki, tetapi perempuan juga. Maka ini belum semuanya, kepada anak-anak kecil sering diberikan kata-kata yang membingungkan orang yang bijaksana dan yang terpelajar.
24. Maka, saudara-saudara yang kukasihi, sebab kamu ingin mengetahui dariku apa yang harus kamu lakukan karena kamu disengsarakan dan diusir – maka aku tidak menginginkan bahwa kamu akan menganggap bahwa aku bermaksud mengadili kamu hanya sesuai dengan apa yang benar.
25. Karena aku tidak bermaksud bahwa kamu sekalian telah terpaksa merendahkan diri, karena aku sungguh-sungguh percaya bahwa ada beberapa orang di antara kamu yang bersedia merendahkan diri, biarpun mereka berada dalam keadaan apapun.
26. Maka, seperti yang kukatakan mengenai iman – bahwa hal itu bukanlah suatu pengetahuan yang sempurna – bahkan demikianlah dengan kata-kataku. Pada mulanya kamu tidak dapat mengetahui kepastiannya, sampai kepada kesempurnaan, sama seperti iman itu bukan pengetahuan yang sempurna.
27. Tetapi lihatlah, jika kamu bersedia menyadarkan dan membangkitkan bakatmu, bahkan untuk suatu percobaan terhadap kata-kataku dan menjalankan sepercik iman saja, ya, bahkan jika kamu tidak dapat berbuat lain daripada keinginan untuk percaya, biarlah keinginan ini bekerja di dalam dirimu, bahkan sampai kamu oercaya dengan suatu cara sehingga kamu dapat memberi tempat untuk sebagian dari kata-kataku.
28. Maka, kita akan membandingkan firman itu dengan sebiji benih. Maka, jika kamu memberi tempat, sehingga benih itu dapat ditanam di dalam hatimu, lihatlah, jika itu adalah benih yang benar atau benih yang baik, jika kamu tidak membuangnya karena ketidakpercayaanmu, sehingga kamu menolak Roh Tuhan, lihatlah, benih itu akan mulai menggembung di dalam dadamu dan apabila kamu merasakan gerak penggembungan ini, kamu akan mulai berkata di dalam dirimu sendiri: Sepatutnyalah bahwa ini adalah benih yang baik, atau bahwa firman itu adalah baik, karena benih itu mulai membesarkan jiwaku. Ya, benih itu mulai menerangi pengertianku. Ya, benih itu mulai menjadi sebuah kelezatan bagiku.
29. Maka lihatlah, tidakkah ini menambah imanmu? Kukatakan kepadamu: Ya, meskipun demikian benih itu belum tumbuh menjadi pengetahuan yang sempurna.
30. Tetapi lihatlah, ketika benih itu menggembung dan bertunas dan mulai tumbuh, maka perlu kamu katakan bahwa benih itu baik, karena lihatlah, benih itu menggembung dan bertunas dan mulai tumbuh.
31. Maka lihatlah, pastikah kamu bahwa ini adalah benih yang baik? Kukatakan kepadamu: Ya, karena setiap benih menghasilkan bukan menurut sifatnya.
32. Karena itu, jika sebutir benih tumbuh, maka benih itu adalah baik, tetapi jika tidak tumbuh, lihatlah, benih itu tidak baik. Karena itu benih tersebut dibuang.
33. Dan sekarang lihatlah, karena kamu telah melakukan percobaan itu dan menanam benih itu dan benih itu menggembung dan bertunas dan mulai tumbuh, maka perlu kamu ketahui bahwa benih itu baik.
34. Maka lihatlah, apakah pengetahuanmu sempurna? Ya, pengetahuanmu sempurna di dalam hal itu dan imanmu tidak bekerja dan ini karena kamu tahu, karena kamu tahu bahwa firman itu telah menggembungkan jiwamu dan kamu juga tahu bahwa firman itu telah bertunas, sehingga pengertianmu mulai diterangi dan pikiranmu mulai meluas.
35. Ya, kalau demikian, apakah ini tidak nyata? Aku katakan kepadamu: Ya. Karena ini adalah terang dan barang apapun yang terang, adalah baik, karena dapat dilihat. Karena itu kamu harus mengetahui bahwa itu adalah baik, dan sekarang lihatlah, setelah kamu merasakan terang ini, apakah pengetahuanmu sempurna?
36. Lihatlah, kukatakan kepadamu: Tidak. Juga jangan kamu mengesampingkan imanmu, karena kamu hanya baru menjalankan imanmu untuk menanam benih agar kamu dapat melakukan percobaan untuk mengetahui apakah benih itu baik.
37. Dan lihatlah, sewaktu pohon itu mulai tumbuh, kamu akan mengatakan: Marilah kita memelihara pohon ini dengan penuh perhatian agar pohon itu berakar, supaya dapat tumbuh menjadi besar dan menghasilkan buah bagi kita. Dan sekarang lihatlah, jika kamu memelihara pohon ini dengan penuh perhatian, pohon ini akan berakar dan tumbuh jadi besar dan menghasilkan buah.
38. Tetapi, jika kamu melalaikan pohon itu dan tidak memperdulikan pemeliharaannya, lihatlah pohon itu tida akan berakar dan apabila panas matahari datang, akan menghanguskannya. Karena tidak berakar, pohon itu akan menjadi layu dan kamu mencabutnya dan membuangnya.
39. Maka ini bukanlah karena benih itu tidak baik, juga bukan karena buahnya tidak disenangi, tetapi karena tanahmu tidak subur dan kamu tidak mau memelihara pohon itu. Karena itu, kamu tidak dapat memperoleh buahnya.
40. Jadi, jika kamu tidak mau memelihara firman itu dan menanti-nantikan dengan mata iman akan buahnya, kamu tidak akan pernah dapat memetik buath pohon kehidupan.
41. Tetapi jika kamu mau memelihara firman itu, ya memelihara pohon itu ketika pohon itu mulai tumbuh, dengan imanmu dan dengan ketekunan yang besar dan dengan sabar, menanti-nantikan buahnya, maka pohon itu akan berakar, dan lihatlah, pohon itu akan menjadi sebatang pohong yang menjulang sampai kepada kehidupan yang abadi.
42. Dan karena ketekunanmu dan imanmu dan kesabaranmu dengan firman di dalam pemeliharaannya agar dapat berakar di dalam dirimu, lihatlah, kelak kamu akan memetik buahnya, yang paling berharga, yang lebih manis di atas segala apa yang manis dan yang lebih putih di atas segala yang putih, ya, dan lebih murni di atas segala apa yang murni dan kamu akan mengenyangkan diri dengan buah ini, bahkan sampai kamu penuh, sehingga kamu tidak akan lapar lagi ataupun haus.
43. Kemudian saudara-saudaraku, kamu akan memetik upah imanmu dan ketekunanmu dan kesabaranmu dan panjang sabarmu menunggu pohon itu menghasilkan buah bagimu.